Kukalungkan hati yang kau berikan
Kulingkarkan dijariku yang tak lentik
Kulingkarkan ditangan yang tak begitu kuat
Itu bukti aku menerima titipan mu
Bila nanti kita berlabuh di tepi jurang
Ada canda yang akan menyelamatkan kita
Ada tawa yang akan meraih kita
Ada tangis yang akan membendung kita
Bila nanti kita tiba disurga
Ada sayang yang menemani kita
Ada cinta yang mengingatkan kita
Ada rindu yang menuntun kita
Itu bila nantinya kita sampai disini
Ada benci yang menyapa kita
Ada amarah yang melambungkan kita
Ada nafsu yang mencumbuikita
Itu bila kita sampai pada kesempurnaan nantinya
itu adanya di utara
Rabu, 15 Juni 2011
TAK SEMPURNA
Selasa, 14 Juni 2011
Cakralawa Rasa
Terpejam langit yang sudah tak berdaya
Pecahkan keheningan yang luka
Berkeping menjadi potretan-potretan yang merdu
Serasi
Berseri
Kepergiannya tidak dibiarkan
Diterpa oleh keagungan dan keingin untuk berjumpa lagi
Retak keras dipoles dengan lembutnya harapan
Lepaskan kerinduan akan hal yang lama tak dirasa
Menebarkan kemilau ruang penuh jarum
Diterima kehendak yang tidak terpuaskan
Kuasa yang tak mampu dibendung
Tak juga di lawan
Kelopak mekar terkapar hina
Hilang dalam gemilang kecemburuan
Tak terima kemanapun perginya
Meski kepergian itu diinginkan
Pertemuannya nanti
Rentetan yang harus terkilaukan
Meski itu keinginan semu
Dibalik pengharapan aku tetap menunggu
Pecahkan keheningan yang luka
Berkeping menjadi potretan-potretan yang merdu
Serasi
Berseri
Kepergiannya tidak dibiarkan
Diterpa oleh keagungan dan keingin untuk berjumpa lagi
Retak keras dipoles dengan lembutnya harapan
Lepaskan kerinduan akan hal yang lama tak dirasa
Menebarkan kemilau ruang penuh jarum
Diterima kehendak yang tidak terpuaskan
Kuasa yang tak mampu dibendung
Tak juga di lawan
Kelopak mekar terkapar hina
Hilang dalam gemilang kecemburuan
Tak terima kemanapun perginya
Meski kepergian itu diinginkan
Pertemuannya nanti
Rentetan yang harus terkilaukan
Meski itu keinginan semu
Dibalik pengharapan aku tetap menunggu
Minggu, 12 Juni 2011
Sabda
Teringat akan pucuk daun yang bertengker siang ini
Kemana ia dan seekor murai
Kepada siapa ranting mencari bunga
Lepas rebah terhempas
Tangkai terlepas terjerembab pasrah
Resah terus hamparkan sekujur kecurigaan
Gulana berduka bertaburan bunga
Terbaring
Kepastian yang menuntutnya
Itupun keharusan
Roda-roda akar bergetar tak tearah
Meliuk-liuk menyusuri relung-relung tanah
Temui kerajaan baru yang belum pernah ada
Itu jadi milik kita
Kereta dari kain tenunan sendiri
Menghantarkan berlabuhnya sebatang kering
Sepotong dahan memekik kepengingan keresahan
Kembalikan memori sepucuk daun
Hingga terjerembabnya tangkai yang terkulai
Kurungan
Kerajaan yang dihadiahkan cuma-cuma
Terbelenggu didalam sekat-sekat yang mematahkan ranting
Terjepit diantara siang dan malam
Kepasrahan tak dibutuhkan
Yang mana berikutnya
Tak jamin bunga,pucuk atau ranting
Yang pasti, itu ada nya
Langganan:
Postingan (Atom)